Sabtu, 02 Juni 2012

Senantiasa Bertawadhu'


     Tidak heran bila wanita muslimah yang diselimuti oleh petunjuk agamanya senantiasa tawadhu' (merendahkan diri), lemah lembut, lapang dada, dan penuh tolenrasi. Yang demikian itu karena di samping mendapatkan nash-nash yang memberikan ancaman yang berat bagi orang-orang yang sombong, dia juga mendapatkan nash-nash yang menganjurkan untuk selalu tawadhu', yang menjanjikan bagi setiap orang yang tawadhu' karena Allah akan diangkat ke derajat yang lebih tinggi dan diberikan kehormatan dan kemuliaan, seperti yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadistnya berikut ini, "Tidaklah seseorang itu tawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan mengangkatnya." (HR. Muslim). Juga sabdanya, "Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku agar kalian bertawadhu' sehingga tidak ada seorang pun merasa sombong atas yang lainnya, dan tidak pula seseorang berbuat dhalim atas orang lain." (HR. Muslim) 

     Wanita muslimah yang benar-benar mendalami sirah Nabi Muhammad saw. akan menemukan kepribadian yang agung sebagai contoh yang hidup dan sangat istimewa dalam hal tawadhu', lemah lembut, bersahaja, berakhlak mulia, dan berlapang dada, sampai-sampai pada saat beliau berjalan melewati anak-anak yang sedang bermain berhenti seraya mengucapkan salam sembari melontarkan sebuah candaan. Sikap tawadhu' ini tidak terhalang oleh karena kedudukannya sebagai Nabi, pemegang kendali kepimpinan dan tidak juga kedudukannya yang tinggi.

      "Telah disebutkan oleh Anas bin Malik ra., bahwa Rasulullah saw. pernah berjalan melewati anak-anak, maka beliau pun mengucapkan salam. Kemudian Anas berkata, 'Nabi Muhammad saw. senantiasa melakukan seperti itu'." (Muttafaq Alaihi) 
 
      Masih menurut riwayat Anas bin Malik ra., bahwa di antara sikap tawadhu' Nabi Muhammad saw. terlihat ketika seorang hamba sahaya wanita madinah memegang tangan Nabi, lalu dia membawa beliau kemana saja yang dikehendakinya untuk memenuhi kebutuhannya. (HR. Bukhari) 
 
     Tamim bin Usaid pernah datang ke Madinah untuk bertanya tentang hukum-hukum Islam. Untuk menemui Rasulullah saw., orang asing yang berkemauan keras ini dan orang pertama di daulah Islamiyah tidak mendapatkan pagar dan penjaga, tetapi dia melihat Rasulullah sedang berkhutbah di atas mimbar. Kemudian Tamim maju ke depan untuk mengajukan pertanyaan. Rasulullah saw. sendiri menyambutnya dengan senang, dengan sikap tawadhu' dan lemah lembut serta menjawab pertanyaannya itu dengan seksama. Mari kita dengarkan Tamim bin Usaid menceritakan hal itu kepada kita melalui sebuah riwayat berikut ini, Tamim menceritakan, "Aku sampai kepada Rasulullah saw. pada saat beliau sedang berkhutbah, lalu aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, seorang asing datang untuk menanyakan beberapa mengenai agamanya, karena dia tidak tahu apa agamanya?' Maka Rasulullah pun menyambutku dan meninggalkan khutbahnya, lalu disodorkan kursi dan beliau duduk di atasnya untuk mengajarkan kepadaku apa yang diajarkan Allah kepadanya. Setelah itu beliau kembali melanjutkan khutbahnya sampai selesai." (HR. Muslim) 
 
       Rasulullah saw. telah menanamkan ke dalam jiwa para sahabat akhlak tawadhu' yang dibangun diatas sikap tolenrasi dan kelembutan. Yaitu dengan memberikan contoh langsung melalui kesediaannya menghadiri undangan orang-orang miskin serta menerima hadiah mereka meskipun hadiah itu sedikit, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini, "Seandainya aku diundang untuk makan kaki atau lengan kambing, niscaya aku akan menghadirinya. Dan, seandainya aku diberi hadiah kaki atau lengan kambing, niscaya aku akan menerimanya." (HR. Bukhari)

      Begitu indah gambaran dari sifat tawadhu'. Dan begitu agung kemanusiaan di puncaknya yang paling tinggi. Subhanallah, semoga bermanfaat, amin (^_^)

    

    

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar